Minggu, 29 Juli 2018

Julinisasi

Semesta, bolehkah kutuliskan satu surat untukmu di penghujung Juli yang manis ini?

Semesta, Juli ku begitu manis bersama sosok-sosok romantis yang tiba-tiba menjadi sebaris inspirasiku sehingga makin puitis. Apakah mereka kau kirimkan untuk melebur lara dalam hidupku?

Pagi hariku penuh dengan muka kusut mereka. Biasanya ada satu dua yang mulai berteriak membangunkan. Lalu tiga empat yang lain berlari merebut tempat di kamar mandi. Serangan fajar, katanya.

Pagiku sibuk untuk memasak air, membuat segelas teh manis hangat, yang manisnya semanis kisah kami, dan sehangat peluk mesra mereka. Pagiku sibuk untuk menanti nasi matang. Sering kali pun dihiasi kegiatan menyapu dan mengganti plastik di tempat sampah. Biarkan sampahnya saja yang dibuang, jangan kenangannya.

Selanjutnya aku pergi ke pasar, membeli sayuran untuk dimasak seharian. Lalu sibuk membagi piring isi nasi dan lauk panganan.

“Ambilin aku nasiiii....,” kata-katanya sangat menggemaskan.
"Aku sedikit aja," kata manusia lainnya yang masih mengumpulkan nyawa.



Semesta, adakah satu dua masa yang kau perpanjang lagi demi segala moment berharga itu?

Semesta, kini sudah tiba waktunya.

Tibalah waktu dimana yang dulunya diam menjadi benar-benar diam dan mulai menikmati matahari tenggelam. Aku akan rindu saat mereka mulai diam. Lalu tersenyum dalam diam.

Aku akan rindu dia yang kerap meledek aku dengan tatapan sok galaknya, lalu tertawa tiba-tiba. Dia kerap seperti itu. Tiba-tiba menendang kaki ku, pura-pura tak sengaja menyenggol tanganku.
"Apaan sihhh," katanya sambil tersenyum lalu memukul perlahan.


Aku akan rindu dia yang berkata-kata dalam manja, menatap matahari dengan sepasang kacamatanya. Aku akan rindu setiap ajakannya untuk bernyanyi ditengah siang. Memutar lagu dansa milih Michael Buble yang membuat kita ingin menari bersama. Aku akan rindu setiap kali ia salah memanggil namaku, untuk akhirnya kuhitung sampai kelipatan sepuluh, agar dia membelikanku es krim coklat. Aku rindu rebutan Nextar dengannya. Aku akan rindu suaranya. Aku rindu binar matanya yang mulai menyala tatkala Si Ayu datang menyapa.

Aku akan rindu caranya menasehatiku tentang cinta.
Dia pernah berkata, "Laki-laki itu punya caranya masing-masing dalam mencintai."

Entah dia mencintai dengan cara yang seperti apa, namun yang aku tau, dia tulus adanya. Aku tau. Aku melihatnya dalam sempurna yang ada.



Ada begitu banyak hal yang kutemukan setiap pagi, tatkala siang menari-nari diatas pikiran. Seperti sesosok manusia yang kerap menari mengikuti Ari Lesmana. Dia selalu berusaha membuat kami tertawa, meski kerap segaring krupuk dari nasi goreng semalam, tapi aku suka. Aku suka caranya berkata dalam terbata-bata. Aku suka ketika dia mulai bersenandung, menyambungkan segala sesuatu agar bisa menjadi lagu berdua.

Aku akan rindu ketika kita mencuci piring bersama. Aku rindu melihatnya memainkan beras dalam wadah lada. Aku akan rindu dengan tatapan matanya yang mulai bingung ketika terlepas dari kacamata bulatnya.
"Aku gabisa liat apa-apa," katanya sebangun tidur siang lalu.

Namun aku tau, dia bisa melihat begitu banyak hal disekitarnya dengan sederhana. Dia mewarnainya dengan begitu banyak keindahan.


Semesta, taukah kau bila aku menemukan sosok-sosok yang mendewasakanku sepanjang hari-hariku?

Aku menemukan dia yang menawan apa adanya. Tanpa sapuan kuas warna di kelopak matanya, ia mampu memandang segala sesuatu dengan jujur. Dia mengajariku bahwa tak semua hal perlu dipikirkan dengan serius, namun kita tetap tak boleh larut dalam cinta yang datang begitu tiba-tiba.

Aku akan merindukan dia yang selalu terlelap disampingku. Yang katanya tiap malam memarahiku dalam mimpi, meminta aku sedikit bergeser supaya ia tak jatuh ke lantai. 
Aku akan merindukan caranya memarahiku, memarahi kita semua. Menegur setiap tisu atau kapas sisa make up yang tersisa dikamar. Aku akan merindukan caranya memarahi siapa saja yang berusaha memeluk boneka monyetnya.

Aku mengenalnya jauh lebih lama dari yang lainnya, namun aku baru tersadar, bahwa ia begitu berarti dalam setiap hela nafasku. Aku tak ada apa-apanya dibanding dia. Memang hanya dialah saja yang bisa mandi paling pagi lalu mencuci baju. Memang hanya dialah saja yang paling bisa menasehati, dan pandai memata-matai temannya sendiri supaya aku tidak mati penasaran.



Aku juga menemukan sosok penyabar yang kerap kuperhatikan sekali dua kali. Aku kagum melihat rambutnya terurai panjang. Aku suka. Aku selalu suka setiap senyum dan sapanya. Namun aku tak pernah suka melihat dia terdiam, membisu, terbenam dalam kesendirian dan powerbank merahnya.

Tanpa benda merah itu, hidupnya seakan tak bernyawa. Padahal, kehadirannya adalah nyawa yang menguatkan hari-hari sepiku. Canda dan tawanya yang sederhana sungguh berhasil mewarnai dunia.

Aku belajar untuk mempedulikan hal-hal disekitarku. Ada begitu banyak yang bisa dimanfaatkan, bisa dipercantik, bisa dibuat lebih nyaman dari sebelumnya. Aku suka setiap kali ia membuat rambut panjangnya menjadi keriting, aku suka setiap ia membunyikan jemarinya, katanya itu disebut mengklik-kan jari. Termasuk dalam setiap langkah pastinya, dalam setiap lagu yang ia dendangkan. Dalam sebaris lirik lagu indie berbunyi, kita teralih.



Iya, kita telah teralih.



Teralih dalam satuan waktu maha menyebalkan.
Ia selalu saja seperti ini.
Berjalan begitu cepatnya, menghantam aku keras ke bebatuan tajam.

Iya, aku tau.
Aku tau tak pernah ada yang abadi.
Tak ada yang bisa selamanya.
Tak ada, selain cinta.


Lalu, apakah cinta yang kutemukan disini akan selamanya?


Bagaimana kabarnya dengan begitu banyak cinta diluar sana yang kerap melupakanku ketika mereka bahagia sendiri?



Semesta, bolehkah satu kali saja aku tidak jatuh dalam sebuah cinta?
Karna untuk kesekian kalinya, kurasa, cinta ini juga salah....

Semesta, salahkah jika aku jatuh dalam sebuah kenyamanan dibalik setiap canda yang kita buat bersama?
Apakah ini bagian dari sandiwaramu, wahai semesta?
Lantas mengapa aku benar-benar jatuh cinta?

Aku lelah, Semesta.

Aku lelah untuk selalu berharap pada sosok yang bahkan hanya melewatkanku sepanjang pagi. Aku lelah menantinya kembali setiap dia pergi. Aku lelah melihat dia kau sibukkan sendiri dengan begitu banyak pesan di genggamannya

Siapa gerangan yang ia tunggu kabarnya? Tidakkah mentarimu yang tiap sore terbenam jauh lebih indah untuk dipandang bersama, daripada menanti tanda notifikasi berkumandang?

Semesta, aku benci.

Aku benci setiap kali aku teringat akan tatapannya.
Aku takut.

Aku takut tak bisa lupa bagaimana caranya menyapaku di pagi hari.
Aku takut tak bisa lupa dengan lagu yang kerap ia putar di ponsel.
Aku takut terngiang suaranya kala berdendang sambil memetik gitar.
Aku takut untuk selalu teringat akan dia setiap aku membeli galon aqua.
Aku takut selalu ada dia di setiap jalan yang pernah kita lewati bersama

Semesta, aku benci.

Mengapa kau selalu menjatuhkan aku pada cinta yang bukan semestinya.
Semesta, apakah ini juga kau beri nama jatuh cinta?
Jika kelak aku akan merindukan dia, apakah ini juga kau beri nama jatuh cinta?

Semesta, adakah lain waktu aku bisa menemuinya lagi meski hanya sebatas tidak sengaja?
Apakah jika kelak kita berpapasan di koridor belakang rektorat, aku takkan lagi merasa rindu yang bertubi?
Atau malah aku merasa iri hati bilakah dia berjalan sambil menggandeng mesra sosok pujaan yang kerap ia hubungi tiap malam?

Semesta, bagaimana jika nanti aku benar-benar merindukannya?
Akankah rindu ini mampu membunuh waktu yang berlalu?
Kurasa begitu banyak tanda tanya yang kuhaturkan padamu sepanjang waktu.

Semesta, meski kecewa selalu jadi bagian terakhir setelah bahagia yang sementara, nampaknya aku tetap bersyukur pernah menyapanya di setiap pagi, merayu nya di sepanjang siang, membuatnya malu disetiap saat, menatap matahari tenggelammu diwaktu senja, dan merasakah kehangatannya dikala nonton film bersama.

Semesta, aku pasti akan rindu...


Aku pun akan merindukan cara adikku merajuk, merasa malu dengan kelakuanku sendiri sepanjang saat.
Dia selalu berkata,
"Terserah kamuu," ketika kita mulai beradu pendapat, lalu dia cenderung pergi, katanya sih mau mandi, tapi malah asik membalas pesan dari kesayangannya yang rindu dan pengen dipeyuk.

Semesta, bahagia juga ya rasanya punya adik. Impian dan cita-citaku sedikit terwujud beberapa waktu belakangan ini. Sepanjang waktu aku merasa sedikit lebih dewasa, meski umurnya jauh lebih tua.

Semesta, aku bangga memilikinya.
Aku bangga.
Aku tidak menyangka dia bisa seperti kini.
Dialah yang sangat amat berhasil mengorganisir kami dalam setiap pekerjaan.
Dia ternyata bisa.
Hebat.
Aku bangga.

Termasuk ketika dia tau aku sedang berada dalam ketidak nyamanan. 
"Tenang, jangan panik lho, ada adikmu."
Aku sungguh tidak akan melupakan kalimat itu. Begitu pula setiap kali kita berebut kamar mandi, dan akhirnya dia berbisik lirih,
"Yaudah kamu duluan, akumah ngalah sama kakaknya," 

Sungguh aku selalu ingin tertawa dalam setiap sandiwara ini.
Meski kerap aku begitu kesal karna dia sangat menyebalkan,
Namun aku tetap sayang.

Dia selalu mengingatkanku, bahwa dalam hal cinta, kita tidak boleh terburu-buru. Sebab dia pun tahu kalau aku begitu mudah jatuh hati. Jatuh pada temannya sendiri.


Semesta, salahkah jika aku bahagia memiliki mereka?


Semesta, aku sangat senang menggoda seseorang setiap kali pujaannya datang bersambang. Terus saja kulantunkan kata-kata menggemaskan agar si pujaan tertawa manis setiap saat. Aku senang menggodanya. Apalagi ketika aku dan pujaannya saling bertegur sapa dan menyatukan jemari kami demi membentuk sebuah hati.

Tapi, Semesta, aku tidak pernah suka melihatnya begitu memperhatikan pujaan hatinya itu. Aku tidak ingin dia terjatuh lagi didalam cinta yang terlampau dalam. Aku tak mampu mendengar dongeng cintanya yang penuh lara, cerita panjangnya berbumbu kecewa, jerit kesalnya yang penuh luka. Aku tak ingin lagi dia menderita hanya karna jatuh hati semata. Biarkan yang lalu saja yang mengecewakannya. Jangan lagi dengan yang ini.


Semesta, adakah satu manusia yang pantas ku abaikan hanya karna menyebalkan?
Rasanya ia tak sebegitunya untuk harus kutinggalkan sepanjang waktu. Semesta, dia seharusnya tahu bahwa tanpanya, kami tak mampu menyatu dan bersama.

Semesta, bolehkah aku titipkan sedikit rasa terimakasihku untuknya?

Untuk dia yang kerap mengingatkan aku agar tidak terlalu kencang menutup pintu. Dia yang kerap menghentikan lamunanku hanya karena cinta cintaan yang terlalu kubual sepanjang waktu. Aku akan merindukan senandungnya yang sering membangunkanku untuk sahur. Kata-katanya setiap saat aku mulai berpuisi. Aku akan rindu duduk dibelakangnya, erat diatas motor paling berat dengan suara berisik yang kukenal dari radius 2 kilometer jauhnya.

Semesta, akankah perjalanan jauh kita bisa terulang lagi?
Aku akan rindu caranya meminta aku turun dari motor karna bosan mendengar dongeng cintaku

Semesta, jangan biarkan dia bosan menjadi lelaki yang murah hati.
Aku tahu, ia punya ketulusan yang murni dan nyata dari hati.


Oiya Semesta, aku menemukan satu lagi keajaiban dalam sebulan ini.

Aku menemukan sosok yang kerap menggoda aku, membangunkanku, mengulang kata-kata yang sama tatkala aku mulai berusaha menangisi cinta dari manusia-manusia disekitar kita.
Semesta, taukah kamu aku teramat menyayanginya?
Dia pernah berkata padaku, "Aku nggak mau liat kamu sedih,"

Dialah yang tak pernah tega meninggalkan rumah selain karna harus mengambil uang lagi dari Papa Mama. Dialah alarm yang selalu beribadah tepat waktu. Dialah yang ingin kupeluk paling erat jika nanti kita tak mampu bersama lagi. Dialah sumber penyimpanan cinta paling muat banyak, seperti Unta yang bisa menyimpan banyak air di punuknya. Aku akan rindu memanggilnya seperti itu, memintanya untuk tetap terjaga dan tidak pergi tidur duluan. “Iya, aku denger. Kalo aku udah gak jawab, berarti aku udah tidur.”



Semesta, adakah benarnya bila satuan waktumu kini sudah berakhir pada cerita panjang kita?
Secepat itukah, Semesta?


Siapa lagi yang bisa kuajak bernyanyi lagu cinta Kahitna dikala sendu menerpa?
Siapa lagi yang akan menggodaku sepanjang waktu?
Siapa yang akan kuajak bercerita tentang kisah Burung Dara?
Siapa yang akan memanggil aku adik lagi?
Siapa lagi yang memarahiku jika aku berkendara terlalu kencang?
Siapa yang akan kuajak makan bubur kacang ijo dan jajan kesana kemari?
Siapa yang akan kuajak berbincang kala menanti malam didepan kamar mandi?
Siapa yang bisa kuajak menggombal dan berpuisi?
Siapa yang akan membuatku tersipu setiap waktu?


Siapa lagi yang akan menemaniku melepas setiap sisa Senja di muara sungai penuh cerita?
Semesta, adakah setelah hari ini kita masih bisa berjumpa?

Semesta, jika tiada waktu bagiku untuk mengatakan banyak hal pada satu dua diantara mereka, biarlah kutitip rindu dan sayang yang tanpa sengaja kuciptakan dalam sebulan ini pada mereka.



Semesta, aku sayang, 
dan entah mengapa tak ingin kehilangan.




Dari sebuah kejauhan yang semoga selalu bisa kudekatkan, kutitipkan muara sungai sukacita tempat kita pernah bersama, padamu, wahai Senja dalam Semesta.


Kurelakan Senja pergi begitu saja,
tapi jangan pernah hilangkan cinta yang ada.
Karena Hari dan Senja bisa hilang berganti,
namun tempat ini tak pernah hilang dari lubuk hati.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar