Sayang, apa kabar?
Masihkah kamu disana?
Disana yang entah
dimana.
Kerap kamu begitu
mudah berpindah-pindah.
Mulai dari tempat,
rasa, hingga hati.
Sayang, lagu apa
yang kamu mainkan malam ini?
Jangan bosan memetik
senar demi senar itu.
Manis kudengar
petikannya di telingaku.
Merdu, syahdu,
sangat mampu mengusir gundah gulanaku.
Oh, sebentar.
Mampukah itu
mengusir resah gelisah manusia lainnya?
Jika iya, tak apa.
Berarti Kamu baik
hati adanya.
Oiya, sayang, jangan
pergi terlalu lama..
Jangan pulang
terlarut malam.
Jangan begitu saja
hilang tanpa memberi kabar.
Sayang yang kutulis
bukan sekedar deretan huruf, tapi sebuah rasa.
Terasa tidak?
Jika masih tidak,
nampaknya esok hari akan kuberikan kamu sedetak jantungku, supaya bisa kau
rasakan betapa ia berpacu melawan waktu, berpacu menantikanmu, berpacu,
berharap ada kamu.
Namun tak ada...
Oh iya, kamu kan
sedang bersama dia.
Hahaha, aku nyaris
lupa.
Sayang, aku lelah..
Kita pernah mencoba
berjalan searah.
Sebegitu seringnya.
Sebegitu sengajanya
supaya bisa searah.
Tapi pada akhirnya
kamu selalu bilang terserah.
Sayang, mengapa
gerangan kamu pergi sebentar?
Kamu gerah?
Kamu marah?
Salah apa aku
padamu, sayang?
Salah jika aku
sayang??
Oke, tak masalah
jika aku yang salah.
Tak masalah jika
kamu mulai tak betah.
Toh aku selalu akan
tabah.
Toh, sayangku akan selalu
merekah.
Tapi, bagaimana jika
pergimu seperti hari yang terus berganti.
Seperti waktu yang
terus berlalu.
Makin lama, makin
hilang, makin pudar digerus masa.
Sayang, tidakkan
kamu tau jika aku akan rindu?
Haduh, bahkan
sekarang saja aku mulai merindukanmu.
Pernahkah kamu
berpikir kalau-kalau aku disini tak bisa berhenti memikirkanmu?
Membayangkan sedang
apa gerangan kamu disana,
Menduga-duga kiranya
kamu menyantap nasi dengan lauk apa,
Mengira, akankah aku
yang juga ada dibenakmu?
Ataukah dia?
Atau siapa?
Siapa sayang?
Siapa?
Bisa aku tahu dia itu
siapa?
Bisakah beri tahu
aku mengapa harus dia?
Salah apa hingga
kamu memilih dia, bukan aku?
Lalu yang selama ini
ada untuk apa, sayang?
Untuk kamu ketik
sekedar deretan huruf s - a - y - a - n dan g?
Sekedar itu saja
kah, sayang?
Sudahlah.
Aku bosan, sayang.
Bosan selalu merasa
sebodoh ini.
Lagi dan lagi, aku
terus yang bodoh.
Bisa beri aku
vitamin supaya sedikit lebih pintar dan tak mudah begitu cepatnya jatuh hati?
Bisa tinggalkan
sebalut atau dua balutan perban, kalau-kalau sebentar lagi aku patah hati
karenamu?
Ah, sayangnya,
bahagiaku hanya sebentar ya.
Mengapa kamu tak mau
berlagak jadi penipu yang lebih lama sedikit, sayang?
Bisakah beri aku
sedikit bahagia lagi?
Aku butuh itu.
Butuh kamu.
Kalau saja kamu tahu.
Ah tapi sepertinya
kamu tak tahu.
Biar.
Biar saja.
Biar esok aku saja
yang meracunimu dengan madu.
Supaya kamu sedikit
lebih pintar.
Agar mudah paham
bagaimana perasaan begitu mudahnya jatuh dengan dalam.
Agar lebih mengerti,
bila hati tidak semudah itu merelakanmu pergi....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar