Taukah kamu apa yang paling sempurna di dunia ini?Jawabannya ada pada kata kedua dalam kalimat diatas.
IYA. KAMU!Bener kan? Aku serius!
Banyak yang bilang kalau angka 10 itu angka yang sempurna. Angka
yang paling pas. Paling top banget lah. Sama pas nya seperti urutan bulan
ke-10, yaitu bulan Oktober. Oktoberku tahun ini nampaknya bisa kubilang cukup
sempurna. Yap, betul. Karena ada kamu didalamnya :)
Oktober punya begitu banyak cerita luar biasa. Mulai dari ribetnya
ngatur jadwal kerja paruh waktu dan ujian tengah semester, banyaknya deadline
tugas yang dikumpul waktu ujian, banyak jajan ini itu sampai duitku tiba-tiba
tiris, banyak rapat bareng kamu, banyak yang ulang tahun, sampai begitu
banyaknya pertemuan dengan orang-orang baru yang tidak disengaja.
Dari sekian banyak hal-hal yang lucu itu, ada hal yang paling
istimewa. Dari sederet panjang kesibukan di bulan Oktober, ada satu hari penuh
yang bisa dimanfaatkan dengan amat baik untuk piknik sejenak. Sekitaran
seminggu lalu, di hari Sabtu, 28 Oktober, pas banget sama hari sumpah pemuda,
kita akhirnya piknik.
Biarpun harus mempersiapkannya dari jauh-jauh hari, ternyata hidup
ini kalau dibawa hepi jadi makin cepet berlalu yaa. Sama halnya teori ini
terjadi pada sabtu lalu. Nggak kerasa perjalanan Jogja-Ambarawa itu ternyata sebentar
banget. Nggak nyangka kalau mentari pagi begitu cepat menuju siangnya. Lalu, kini
bahkan berubah jadi malam. Seharian itu pun terasa sangat sebentar dibanding
masa-masa yang pernah ada.
Sehari saja rasanya belum cukup.
Piknik ini bagiku bukanlah piknik biasa. Yaa, memang bukan piknik
ke pantai seperti tetangga sebelah sih, apalagi mendaki gunung kayak mas-mba
yang disebelah. Perjalanan ini memang tidak berjudul piknik sih, tapi
perjalanan ini cukup merubah penatku jadi bahagia. Yap, betul. Ini juga
karena ada kamu disana! :)
Kalau kalian bertanya,
Kenapa sih harus ada kamu-kamunya terus???
Itu karena banyak kamu yang istimewa disana.
Banyak sekali yang istimewa di hari itu.
Tapi,
Sayangnya,
Sehari itu rasanya sebentar.
Sehari itu begitu cepat berlalu.
Sehari itu membentuk sebuah perjalanan waktu yang makin kesini
membuatku makin tersadar, bahwa waktu yang kita miliki memang akan segera
berlalu.
Nggak kerasa, hampir tiga semester kulalui dengan
kuliah-rapat-bikin acara-dan tertawa bersama kamu-kamu yang diatas itu.
Nggak kerasa, setelah ini kita punya jalannya masing-masing. Kita memang
berangkat dari Jogja bersama-sama, tiba di Ambarawa bersama, melewati seharian
yang istimewa bersama. Tapi, sepulang dari sana, gelap malam memisahkan
kebersamaan kita.
Kalau kalian mengira bahwa aku akan menyalahkan malam, tentu tidak
sama sekali.
Ada berjuta malam yang pernah kulewati bersama mereka. Ada begitu
sering tawa yang tak mampu berhenti, kecuali jam dinding yang tiba-tiba
berbisik,
“Hey, ini sudah malam...”
Kalau kalian berpikir aku juga akan membenci jam dinding itu,
rasanya tidak perlu. Dia kerap jadi saksi betapa kekosongan sebuah ruang di
sudut kampus yang teramat luas ini menjadi lebih berarti karena ada kamu-kamu-nya.
Dia adalah pendengar yang baik. Dari curhatan bodoh soal si dia yang punya
gandengan extra ordinary tapi LDR-an, teriakan kesal karena keusilan satu
dua manusia, gombalan alay yang mampu membuatmu terbang melayang, sampai
petikan senar gitar yang bergetar seturut suasana hati pemainnya.
Makin kesini, aku semakin menyadari bahwa tanpa kamu-kamu itu,
entah akan menjadi apa hari-hariku. Entah aku harus berbuat apa lagi. Entah
akankah ada senyum dan tawa yang sama seperti hari-hari itu lagi, atau tidak.
Makin lama, aku berpikir, apakah seharian bersama itu bisa
diperpanjang, diputar ulang, atau dikenang sepanjang masa; atau dibiarkan
berlalu begitu saja.
Entah akan ada apa setelah ini, hanya Tuhan yang pantas mengukir hari-hari
kita.
Tapi, satu yang ku tahu pasti,
Aku tahu apa yang paling sempurna di perantauan ini.Kamu juga pasti tahu.IYA. KAMU!
Udah hampir moveon padahal. Tapi nyesek lagi gara2 postingan lu. Thx ya, damn.
BalasHapus