Senin, 09 Oktober 2017

Yang Belum Sempat Terucap


Percakapan kita sore itu mungkin merupakan satu dari sekian banyak kata-kata berharga yang pernah kau utarakan padaku. 
Waktu mulai menunjukkan pukul 4 sore. 
Anggap saja pukul 4 lebih sedikit. 
Lebih yang masih kurang untuk sekedar menikmati kepulanganmu dari pergi jauh ke pulau yang berbeda.

Tak terasa, namun akhirnya aku tetap membiarkanmu untuk pamit pulang. 
Katamu lelah sepekan di hutan orang bercampur udara pesawat terbang menjenuhkan sabtu sore yang penuh cerita itu. 
Namun, sebelum pulang, kamu sempat berkata bahwa kamu hendak membantuku menemukan sosok idaman dalam dunia baru kita ini.

“Kamu mau yang seperti apa?” 
katamu menghapuskan raguku.

Aku terdiam. 

Aku berpikir keras, 
terlalu lamanya hingga kamu tak tahan untuk angkat kaki.


Akupun menghentikan lamunanku. 
Nampaknya aku belum menemukan jawaban dari pertanyaanmu, 
namun aku tetap buka suara.
“Adanya yang seperti apa?”



Kamu lantas merubah wajahmu menjadi penuh heran. 
Pasti kamu bingung kenapa aku malah balik bertanya.
“Kalau kamu serius, pasti ketemu sama yang tulus...,” 
katamu sembari memberi kedipan mata mautmu padaku, lalu pergi.



Semenjak sore itu, aku perlahan mulai merasa menyesal.
Mengapa aku terlalu lama berpikir?
Mengapa kemarin tak kujawab saja pertanyaanmu?


Kini nampaknya semua sudah terlambat. 
Akan tetapi, jika waktu masih bisa ditarik mundur, 
aku akan menjawab seperti ini padamu;
“Aku mau yang seperti kamu.”


Aku mau yang tak perlu setampan romeo, 
tapi murah hati bagai malaikat dari surga.
 Aku mau yang seperti kamu, 
yang meskipun kerap menyebalkan, 
namun selalu berhasil mengusir gundah gulanaku. 
Merubahnya menjadi tawa, 
sipu, 
malu. 


Aku mau yang sepertimu, 
yang cerdas, 
mampu mengatasi masalah kelas dewa, 
mampu mengutarakan gagasan indah yang penuh kreativitas. 
Yang tak hanya pandai bicara,
 tapi juga gesit bertindak.
 Aku mau yang sepertimu.



Aku mau satu yang seperti kamu.
 Tak apa jika itu bukan kamu. 
Tak apa jika tak serupawan kamu. 
Yang penting satu saja sepertimu, 
yang mampu menuntunku menjadi lebih baik dan lebih istimewa dari sebelumnya. 


Satu saja. 
Walaupun bukan kamu, 
bagiku tak apa.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar