Sabtu, 14 Oktober 2017

F A F I F U

Tulisanku kali ini kupersembahkan untuk jiwa-jiwa yang selama ini ada disekitarku. Entah siapa, entah bagaimana, namun jiwa-jiwa itu selalu menghantuiku sepanjang waktu....


Duhai jiwa yang menggemaskan, mengapa setiap hari kamu selalu mengusik hidupku dengan celoteh lucumu. Kerap kali aku tertawa dibuatmu, namun mengapa makin kesini kamu malah semakin nakal dan selalu mengacak-acak suatu hal yang sudah kutata dengan cantik pada tempatnya? Duhai jiwa yang menggemaskan, akankah suatu saat kamu tahu betapa menyeballkannya menata segala sesuatu itu dari nol, dan ketika sudah mencapai angka 99 malah kamu tarik mundur lagi ke posisi minus 3. Wah, kamu ini memang sangat menggemaskan. Walaupun begitu, kamu pasti tahu betapa aku sangat menyayangimu. Jiwa yang menggemaskan, semoga setelah hari ini kamu bisa tumbuh dan belajar menjadi jiwa yang lebih dewasa, menjadi jiwa yang lebih bertanggung jawab pada hidupnya masing-masing.


Duhai jiwa yang menyebalkan, apakah kamu tahu rasanya gundah hatiku saat ini? Semenjak kamu dan aku bertemu dalam satuan bernama waktu, hari demi hariku selalu dipenuhi dengan goresan kisah denganmu. Hai kamu, jiwa yang menyebalkan, namun selalu kurindukan, tahukah kamu betapa aku sangat mengagumimu? Kamu itu memang menyebalkan. Entah kamu yang terlalu bodoh, atau aku yang terlalu bodoh. Entahlah, nampaknya kita sedang hidup dalam sebuah skenario pembodohan bernama jatuh cinta. Hai jiwa yang menyebalkan, tahukah kamu mengapa aku bisa begitu mudahnya jatuh cinta? Tahukah kamu bila tingkah lakumu sangat mengusik jiwaku? Tahukah kamu bila aku terlalu membawa perasaanku lebih jauh kearahmu? Aku rasa kini yang kamu tahu hanyalah bagaimana caranya kamu bisa mencintai dia sepenuh hati. Aku tahu kini kamu punya satu dua manusia lain yang membuatmu lebih nyaman dan bahagia. Yaaa, semoga saja dengannya kamu bisa bahagia ya. Jangan jadi makhluk yang menyebalkan lagi, nanti kamu malah makin disayang sama yang lain.

Duhai jiwa yang banyak gengsinya, pergi kemana kamu malam ini? Aku tak pernah memintamu mengajak aku pergi mengelilingi dunia. Toh menyendiri bersama musik, baterai hp yang penuh, dan koneksi internet bagiku cukup. Aku juga tak pernah memintamu memerhatikan bagaimana pekerjaan yang kulakukan sepanjang waktu. Hanya saja, kerap kamu begitu gengsi dan hanya melihat kekurangan serta kelemahanku. Tahukah kamu berapa harga sebuah waktu yang kupertaruhkan disini, hanya untuk bersamamu? Mungkin kamu tak pernah menyadari betapa aku juga menahan rindu yang begitu besar pada sebuah rumah. Mungkin kamu terlalu gengsi hingga belum mampu menyadari keberadaanku. Tapi, semoga setelah hari ini gengsimu sedikit berkurang yaa... Minimal tidak membuatku semakin pusing dengan hidupku bersama jiwa-jiwa lainnya itu.


Duhai jiwa-jiwa yang kurindukan, senang sekali ya bisa kumpul bareng dan berbagi cerita di jarak yang amat jauh itu. Senang sekali membayangkan jika aku berada ditengah-tengah kalian. Senang sekali menghabiskan malam minggu panjang ini dengan kalian. Ah, tapi nampaknya kesibukanku ini sungguh kurang ajar hingga memisahkan waktu yang kita miliki. Semoga aku bisa menemukan hari-hari baik untuk segera pulang bertemu kalian. Tak sabar rasanya tidur di kasur kamarku sendiri, menghirup udara rumah, meneguk air putih dari gelas gambar pesawatku. Tak sabar rasanya menemukan momentum itu kembali.


Duhai jiwa-jiwa yang sibuk terus, bagaimana kuliah-tugas-praktikum-dan kerja kelompok kalian? Apakah semuanya masih baik-baik saja seperti terakhir kali kita tertawa bersama di kampus? Rindu sekali rasanya bertemu kalian kalian ini. Setiap ada kesempatan bertemu, pasti ada saja yang punya urusan lain. Aku tau sih hidup ini tak hanya untuk satu tujuan. Tapi, jiwa-jiwa yang kusayangi, apakah kalian tahu bila ketika satu dua orang berkumpul, disanalah Tuhan berada. Ingin sekali rasanya melepas semua beban yang kupunya dan menggantinya dengan tawa canda dari kalian. Aku teramat merindukan masa-masa kebersamaan itu. Kapan kita bisa kumpul bareng lagi? Ayo kita piknik, jangan kuliah terus dong....


Duhai jiwa-jiwa yang belum lama kukenal, aku bingung mau ngomong apa. Maaf ya kalau aku terkadang jadi manusia yang egois dan tidak mau membantu kalian kalau lagi kesusahan. Maafin aku yang egois ini. Aku hanya tidak mau menjadikan hal ini sebagai sebuah prioritas utamaku. Aku juga punya kesibukan lainnya, seperti kalian. Aku juga ingin hidupku tenang, sama seperti kalian juga. Mungkin sekarang kita sedang berada dalam masa-masa pencobaan untuk menjadi jiwa yang lebih dewasa. Dengan membagi waktu dan mengatur emosi yang ada, kita harus belajar menjadi aset berharga yang bisa menjual kecerdasan dan keramahan kita. Teruntuk jiwa-jiwa yang belum lama kukenal, sesungguhnya aku menyayangi kalian, walaupun tidak sesayang aku dengan mereka yang lain. Tapi, kebersamaan kita semenjak awal mula bertemu rasanya cukup berharga untuk sekedar menyebut kalian keluarga baruku. Maaf ya kalau aku tidak pernah kumpul secara intensif dan terkesan tidak peduli dengan keluargaku sendiri. Sungguh, aku sedang sangat bimbang menentukan arah langkahku kedepannya. Semoga rasa sayangku makin besar pada kalian yaaa.... Semoga kita bisa semakin kompak, makin keren, makin terbaiiikkkk....


Duhai jiwa yang entah ada dimana, kamu dimana sih? Kapan kita akan dipertemukan? Atau jangan-jangan selama ini kita sudah sering bertemu? Ah, kenapa belum ada tanda-tanda kehadiranmu. Ataukah hanya aku yang begitu bodoh sampai tak bisa merasakannya. Ataukah hanya aku yang terlalu munafik dan selalu mengharapkan manusia lainnya, tanpa pernah menyadari kehadiranmu? Hai jiwa yang entah ada dimana, jika kamu membaca tulisan ini, kamu boleh loh membalasnya lewat sebuah tindakan sederhana, lewat kode rahasia, atau cukup lewat like and share aja. Jika nanti saatnya kita akan dipertemukan, kamu jangan kaget ya kalau mendapati aku yang begitu gila ini. Habisnya mencari keberadaanmu membuat aku makin nggak waras. Jika nanti kita dipertemukan, boleh ya kalau kita pergi bersama-sama ke gereja, habisnya aku nggak punya temen ke gereja. Kalau nggak ngejar-ngejar temen-temen buat kegereja, yaudah aku berangkat sendiri. Makanya, ayok kita ketemuuuuu....


Duhai jiwa yang banyak samanya denganku, tidak maukah kita menyamakan pikiran kita? Nampaknya perlahan-lahan kamu mulai mengerti arti dari gerak-gerik misteriusku selama ini. Aku tak tahu harus memulai segalanya dari mana, tapi yang jelas, dunia sempat beberapa kali hendak mempertemukan kita di persimpangan. Hanya saja aku sudah terlanjur belok ke arah lainnya. Apa mungkin ini waktu yang tepat untuk berpapasan denganmu? Apakah segala hayal dan kenyataan yang sama diantara kita bisa jadi pedoman untuk menyamakan hati kita juga? Ups, nanti dulu. Hati? Ah, rasanya sulit yaa. Tak apalah, punya banyak kesamaan denganmu rasanya sudah cukup lucu. Jadi, kapan kita sama-samaan lagi biar makin lucu? Kita jadi kan memperjuangkan hal itu bersama-sama? Ayolah kita bertemu, aku rindu dengan dawai-dawai melodimu itu.

Untuk jiwa-jiwa lainnya, teramat banyak rasanya yang harus kusampaikan. Mungkin akan kutuliskan di lain waktu. Semoga masih ada waktu yang mempertemukan kita. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar