Detik
yang berjalan begitu cepat, tanpa pernah kusangka kini perlahan mulai melemah
dan menghilang begitu saja.
Dalam gelap
malam yang dibalut tetes demi tetes rintik hujan rabu itu, aku jatuh dalam
sebuah perenungan...
Malam itu tiba-tiba
saja kamu berkata,
“Seratus detik ini terlalu lama. Kita bisa melakukan
hal lain yang lebih berguna dalam seratus detik.”
Aku hanya tersenyum.
Kupandangi detik demi detik yang berlalu dalam penunjuk waktu digital diatas
lampu merah jalan kota.
“Tidak,
Sayang,” Aku
mulai memecah keheningan malam itu.
“Dalam
seratus detik ini kita bisa saling mengenang. Seratus detik ini sangat
bermanfaat untuk sekedar merasakan rindu.”
Kamu lalu tertawa
dan meledek aku. Kamu bilang rindu tidak perlu ratusan detik untuk sampai di
tempat tujuannya.
Lalu, apa kamu
merasakan rinduku?
Aku rindu malam itu.
Aku rindu duduk
disampingmu, memperhatikan kamu yang asik bermain ponsel dikala semua orang
sedang berdoa.
Aku rindu melihatmu
membuka pintu, menyalakan mesin, memarahi pengemudi lain yang tidak berjalan
dengan baik.
Aku rindu menatapmu
dari gelap, diam-diam memperhatikan lakumu yang dingin namun tetap manis.
Aku rindu momentum
itu.
Malam-malam hujan,
didepanmu, hanya duduk diam dan menemanimu menyantap sesuap nasi, meneguk
segelas jeruk hangat. Kamu selalu bilang kalau makanan ini adalah makanan
terlezat sedunia. Kamu selalu mencoba membuat aku percaya bila hal itu benar
adanya.
Iya, aku percaya.
Aku percaya bila kamu suka.
Aku percaya, bahkan sejak lama.
Aku percaya bila kamu cinta.
Aku percaya, bahkan tanpa kamu mengatakannya.
Detik
yang berjalan begitu cepat, tanpa pernah kusangka kini perlahan mulai melemah
dan menghilang begitu saja. Detikku itu kini
mulai pudar.
Ia mengeras pada
jantung lain yang punya senyum lebih indah, yang punya kenangan lebih mesra,
yang punya perjuangan sama beratnya seperti kamu.
Aku mungkin hanya
seujung kuku jemarinya yang lentik, yang tak mampu menggenggam erat tanganmu,
dan menguatkan kamu ketika seribu alasan datang dan membuat kamu tiba-tiba
jatuh atau rapuh.
Aku hanya seberkas
laporan tugasnya yang menumpuk, yang sama sekali tak mengerti betapa sibuk
harimu, betapa padat hidupmu.
Aku hanya selintas
jalan raya yang pernah kamu lalui, bersama dia, petang lalu.
Aku hanya setetes rintik hujan, yang ingin jatuh
beramai-ramai, namun kau halangi ketika menyeberang dengan payung bersamanya.
Aku hanyalah sedetik
masa yang tak pernah kamu perhatikan geraknya. Ratusan, bahkan ribuan kalipun
aku berdetak, mungkin bagimu sama saja.
Detik itu sangat berharga.
Ia hanya sekedar menantimu berbalik arah, berharap kamu mengenal aku lebih
dahulu, mengenal betapa aku mengagumimu dari kejauhan, dari kali pertama kita
tertawa menggila.
“Lihatlah,
Sayang, tidak seharusnya mereka saling rangkul ditepi jalan raya begini...,” protesku melihat mereka meneduh dalam
satu payung, sambil saling menghangatkan satu sama lain.
“Ah, kamu
memang tidak mengerti. Peluk adalah rasa terindah. Ia dapat membuatmu hangat
dan menjadi manusia yang lebih kuat.”
Jawabanmu membuat
aku kembali dalam hening ini, hingga aku tersadar bila ratusan detik itu telah
berlalu. Ia telah habis dimakan waktu. Segala kenangannya dihempas begitu saja diterjang
roda kendaraan malam.
Aku benar-benar
sudah sadar.
Ini sudah waktunya
aku pergi.
“Apa ini
saatnya kita berpisah?”
Raguku membakar
pikiran dan hati yang paling dalam.
“Iya. Ini
saatnya. Aku harus pergi.”
Katamu sambil memandangi pintu itu, seakan-akan ingin aku segera
keluar dan berlalu.
Amat berat bagiku
meninggalkan semua ini, tapi,
“Baiklah.
Terimakasih ya.”
Aku turun.
Aku berusaha tegar
melepas hari ini.
Mengapa ini harus sedini ini berakhir?
Tapi, tiba-tiba kamu
berkata,
“Aku yang
harusnya berterimakasih karena kamu mau menemaniku malam ini.”
Kamu hanya tersenyum.
Senyum yang dingin
tapi manis sekali.
Senyum yang entah hingga kapan takkan bisa kulupakan.
Tadinya senyum itu ingin kuabadikan...,
Tadinya semua
tingkah lakumu ingin kurekam supaya aku tak mudah lupa, supaya sesekali bisa
kuputar ulang bila kita berjauhan. Tapi, rasa-rasanya momentum itu keburu menghilang.
Ia hilang bersama ratusan detik itu.
Bersama dengan
hilangnya dia, aku hanya ingin kamu percaya bila aku tidak akan pernah
menghilang begitu saja dari hadapanmu, kecuali kamu benar-benar mengusirku
dengan paksa. Meski tidak bisa jadi seseorang yang selalu menemani makan malam
favoritmu, aku tidak mau begitu saja berhianat dan pergi darimu. Aku akan
tetap ada, mengamatimu dari kejauhan.
Aku akan tetap ada,
memastikan senyummu indah bersamanya.
Setidak berarti apapun
ratusan detik yang pernah ada itu, ia akan tetap jadi kisah berarti untukku. Meski
suatu saat nanti kita sudah tidak pernah bertemu lagi, meski kita sudah bukan
siapa-siapa lagi, meski nanti kamu sudah benar-benar melupakan detik demi detik
itu, kamu masih boleh mencari aku sesukamu.
Mungkin
suatu saat nanti kamu butuh aku....
Baiklah, ini saatnya
aku benar-benar pergi.
Terimakasih untuk
ratusan detik dan kehangatan malam itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar