Pertemuan
denganmu mungkin akan menjadi satu kisah paling indah di hidupku. Kisah yang
tanpa sengaja mampu menyadarkanku betapa aku masih memiliki orang lain dalam
dunia ini. Ketika aku hilang arah, tanpa tujuan pun aku masih bisa meraba bayanganmu
di sudut kota Jogja ini. Kehilangan senyuman dari Ibu yang sedang marah padaku
mungkin lebih sakit dari kehilangan kamu.
Tapi, ada yang lebih sakit dan
menyedihkan dari hal itu; adalah ketika aku berusaha pergi dari kamu yang
terlebih dahulu melipir jauh, lalu, perlahan, waktu mempertemukan kita, lagi.
Bukan waktu
yang kusalahkan.
Bukan
keadaan yang kupermasalahkan.
Tapi, aku.
Iya, aku kok
yang salah.
Aku mungkin
salah sudah pernah jatuh cinta padamu.
Aku mungkin
salah sudah salah tingkah setahun lalu.
Dulu bahkan
aku merasa beruntung bisa melihatmu di fotokopian belakang kampus kita. Sekedar
menyegarkan ingatanku, bahwa dia itu kamu, kamu yang baru seminggu lalu
kukenal, sesederhana karena namamu mirip Ayahku.
Lalu apa lagi?
Aku harus
merasa amat beruntung ketika satu dua acara mempertemukan kita dalam
kelompok-kelompok kecil?
Aku harus merasa sangat bersukacita saat bisa
merasakan empuknya tempat dudukmu itu?
Aku harus apa ketika segala ingatan itu
melekat erat di otakku?
Aku harus apa?
Perlahan,
tapi pasti....
Putaran waktu dan urusan ini-itu menarikmu keluar dari jalur yang
kini setiap hari membuatku pusing memikirkannya. Kamu mulai pergi dari
peredaran zaman ini. Kamu mulai melangkah jauh, jauh sekali, bahkan sampai aku
tidak bisa melihat tubuh jenjangmu lagi.
Perlu kamu
tahu, kamulah yang sesungguhnya kujadikan alasan keberadaanku. Berkat kenal dan
jatuh cinta sama kamu, aku jadi sok aktif dan selalu ada untuk siapa saja. Kamu
kira itu untuk apa? Untuk sekedar bisa bertemu kamu yang ‘sumpah demi Tuhan’
susah sekali kutemui. Tapi, perlu
kamu tahu, perlahan-lahan, hatiku mulai mengikis. Rasa buat kamu, walaupun
sudah kuteriakkan sekeras apapun itu, tetap saja tidak bisa membuatmu tersadar.
Iya kan?
Maka dari
itu, kamu juga perlu tahu, tanpamu juga aku bisa bahagia.
Tanpa
kehadiranmu disana, aku mulai bisa mandiri datang sendiri, nggak perlu berharap
ada atau tidaknya kamu. Aku cuma mau datang karena aku mau, bukan karena kamu.
Perlahan-lahan
waktu memang menjauhkan kita, menarik intensitas pertemuan kita karena
semester-semester maha sibuk belakangan ini. Perlahan pula semua ingatan dari A
sampai Z diatas mulai pudar, seiring ada manusia-manusia baru yang mengisi
hidupku. Dan sekali lagi, perlahan-lahan, aku mulai lupa tentang ‘jatuh cinta
padamu’.
Bukan
semester yang kusalahkan.
Bukan hal
baru yang kugembirakan.
Tapi, suatu
penyesalan terdalam.
“Mengapa
dulu tidak kukatakan saja bila aku jatuh cinta?”
Tapi, semua
sudah berlalu.
Namun, semua
belum tentu terlambat.
Ah, biarkan
saja dia berlalu.
Biarkan saja
dia mengejar waktu.
Aku tidak
peduli akan keterlambatan itu.
Sudahlah,
masih terlalu banyak hal yang harus kubuat menjadi indah. Dan tidak perlu
keberadaanmu pun aku bisa melakukannya. Memangnya kamu siapa bisa begitu saja
mencuri perhatianku lagi?
Oh, tapi,
mungkin saat ini kamu perlu tahu satu hal paling penting yang menyadarkanku
Jumat lalu. Kamu tahu apa hal paling menyebalkan di hidupku?
Ketika aku
sudah berusaha dengan seribu kekuatan hatiku untuk melupakan dan menghapus kamu
dari ingatanku, tapi, hari itu kita bertemu, dan, semuanya tampak sia-sia.
Semuanya membuatku jungkir-balik.
Lalu,
aku harus apa bila kinipun aku masih rindu kamu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar