Selasa, 22 November 2016

Nice to Meet You




Pertemuan denganmu mungkin akan menjadi satu kisah paling indah di hidupku. Kisah yang tanpa sengaja mampu menyadarkanku betapa aku masih memiliki orang lain dalam dunia ini. Ketika aku hilang arah, tanpa tujuan pun aku masih bisa meraba bayanganmu di sudut kota Jogja ini. Kehilangan senyuman dari Ibu yang sedang marah padaku mungkin lebih sakit dari kehilangan kamu.

Tapi, ada yang lebih sakit dan menyedihkan dari hal itu; adalah ketika aku berusaha pergi dari kamu yang terlebih dahulu melipir jauh, lalu, perlahan, waktu mempertemukan kita, lagi.




Bukan waktu yang kusalahkan.

Bukan keadaan yang kupermasalahkan.

Tapi, aku.

Iya, aku kok yang salah.

Aku mungkin salah sudah pernah jatuh cinta padamu.

Aku mungkin salah sudah salah tingkah setahun lalu.


 
Dulu bahkan aku merasa beruntung bisa melihatmu di fotokopian belakang kampus kita. Sekedar menyegarkan ingatanku, bahwa dia itu kamu, kamu yang baru seminggu lalu kukenal, sesederhana karena namamu mirip Ayahku.
Lalu apa lagi?
Aku harus merasa amat beruntung ketika satu dua acara mempertemukan kita dalam kelompok-kelompok kecil?
Aku harus merasa sangat bersukacita saat bisa merasakan empuknya tempat dudukmu itu?
Aku harus apa ketika segala ingatan itu melekat erat di otakku?
Aku harus apa?

 
 

Perlahan, tapi pasti....
Putaran waktu dan urusan ini-itu menarikmu keluar dari jalur yang kini setiap hari membuatku pusing memikirkannya. Kamu mulai pergi dari peredaran zaman ini. Kamu mulai melangkah jauh, jauh sekali, bahkan sampai aku tidak bisa melihat tubuh jenjangmu lagi.

Perlu kamu tahu, kamulah yang sesungguhnya kujadikan alasan keberadaanku. Berkat kenal dan jatuh cinta sama kamu, aku jadi sok aktif dan selalu ada untuk siapa saja. Kamu kira itu untuk apa? Untuk sekedar bisa bertemu kamu yang ‘sumpah demi Tuhan’ susah sekali kutemui. Tapi, perlu kamu tahu, perlahan-lahan, hatiku mulai mengikis. Rasa buat kamu, walaupun sudah kuteriakkan sekeras apapun itu, tetap saja tidak bisa membuatmu tersadar. Iya kan?
 
Maka dari itu, kamu juga perlu tahu, tanpamu juga aku bisa bahagia.
Tanpa kehadiranmu disana, aku mulai bisa mandiri datang sendiri, nggak perlu berharap ada atau tidaknya kamu. Aku cuma mau datang karena aku mau, bukan karena kamu.

Perlahan-lahan waktu memang menjauhkan kita, menarik intensitas pertemuan kita karena semester-semester maha sibuk belakangan ini. Perlahan pula semua ingatan dari A sampai Z diatas mulai pudar, seiring ada manusia-manusia baru yang mengisi hidupku. Dan sekali lagi, perlahan-lahan, aku mulai lupa tentang ‘jatuh cinta padamu’.

Bukan semester yang kusalahkan.

Bukan hal baru yang kugembirakan.

Tapi, suatu penyesalan terdalam.

“Mengapa dulu tidak kukatakan saja bila aku jatuh cinta?”




Tapi, semua sudah berlalu.
Namun, semua belum tentu terlambat.

Ah, biarkan saja dia berlalu.

Biarkan saja dia mengejar waktu.
Aku tidak peduli akan keterlambatan itu.


Sudahlah, masih terlalu banyak hal yang harus kubuat menjadi indah. Dan tidak perlu keberadaanmu pun aku bisa melakukannya. Memangnya kamu siapa bisa begitu saja mencuri perhatianku lagi?

Oh, tapi, mungkin saat ini kamu perlu tahu satu hal paling penting yang menyadarkanku Jumat lalu. Kamu tahu apa hal paling menyebalkan di hidupku?


Ketika aku sudah berusaha dengan seribu kekuatan hatiku untuk melupakan dan menghapus kamu dari ingatanku, tapi, hari itu kita bertemu, dan, semuanya tampak sia-sia. Semuanya membuatku jungkir-balik.

Lalu, aku harus apa bila kinipun aku masih rindu kamu?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar