Kamis, 18 Agustus 2016

Bulan Baru

Halo, selamat malam.
Apa kabarmu disana?
Disini aku sedang memandangi purnama terindah. Setelah sekian ratus hari berganti, setelah sekian banyak rasa hati bersinggung, bulan malam ini adalah yang paling ajaib.

Seajaib kita.

Tapi, kita yang mana?
Bahkan aku hanya berteman lagu sendu ketika menulis surat singkat ini.

Baru saja ada si manis hitam melewatiku. Cukup cepat seperti kilat, tapi aku bisa memastikan bahwa itu bukan kamu.

Oiya, kamu mungkin belum sempat kuberitahu, bahwa apabila ada suara mobil mendekat, aku selalu berharap ada kamu didalamnya. Aku selalu berharap bila kamu datang, membawa sejuta rindu yang terlanjur kulepas ditepi rel kereta siang lalu.

Mungkin aku belum sempat berkata, bahwa aku teramat sangat ingin kamu ada disini.

Tapi, kamu gak perlu khawatir.
Aku nyaman kok ada disini.
Aku bahagia dengan segala sesuatu yang telah dan akan aku lakukan setelah hari ini.
Aku bangga dengan apa yang kini aku miliki.

Mungkin tidak bisa dipeluk erat, tapi aku merasa hangat ada disini.
Mungkin tidak bisa dibawa pulang, tapi aku makan dengan sangat sehat disini.
Mungkin tidak bisa bersama kamu, tapi aku selalu mengenang kamu, kapanpun itu.

Malam ini aku pulang dengan begitu gembira.
Tugas pertamaku sudah didepan mata, dan aku sudah siap untuk itu.
Aku gembira juga karna akhirnya aku punya satu simbol rasa bangga pada keluarga baruku disana.

Tapi, kamu membuatku mengenang pedih itu lagi.

Kamu lagi sedih ya?
Aku bisa merasakannya dari sini.

Kamu lagi banyak masalah?
Aku tau.

Tapi, satu hal lagi yang ku tau,
Aku tau kamu lebih kuat dari karang yang selalu digerus ombak lautan.

Tulisanmu tadi membuat aku jadi sedih disini.
Tulisanmu tadi membuatku jadi rindu, membuatku jadi ingat masalah yang lalu.

Tapi, dulu aku bisa kok melewatinya sampai itu berakhir dan kini berimbas bahagia.
Sekarang, kamu pasti bisa melewatinya.
Ingat saja bila kamu tidak sendiri.
Ingat saja ada bahagia luar biasa didepan sana.

Mungkin sekarang aku belum bisa menggenggam tanganmu, aku belum bisa memelukmu erat, aku belum bisa menghibur kamu dan menghapus air matamu.

Tapi, aku disini masih melihat bulan paling indah yang pernah ada.
Dari bulan itu aku bisa melihatmu.
Karena dari bulan itu, bulan yang cuma ada satu, bulan yang setidaknya membayar rinduku padamu.

Bulan itu kini bulat sempurna, sehingga ia sangat terang dengan pantulan matahari dari balik bumi ini.
Kamu pun demikian.
Aku tau kamu akan selalu bercahaya seindah bulan malam ini.

Nah, sekarang jangan sedih lagi yaaa.
Tunggu aku pulang, karena aku akan segera pulang dan membuatmu tersenyum kembali.
Jangan sedih-sedih lagi.
Kamu harus kuat.
Kamu pasti kuat.
Kamu pasti bisa kok melewati semua ini.

Janji yaaa, sepulangnya aku nanti, kamu harus menyambutku dengan senyum sumringah, bukan senyum yang kamu buat-buat untuk membahagiakan orang disekitarmu.

Aku pamit dulu ya, doakan aku supaya satu masa kedepan bisa berjalan lancar, supaya aku bisa segera pulang dengan kelegaan.

Dari aku yang sedang, masih, dan selalu ingin ada didekatmu.

"When you miss me, close your eyes.When you fall asleep tonight, just remember that we lay under the same stars."
-Shawn Mendes-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar