"Kasih itu sabar, murah hati..."
Beberapa minggu yang lalu, bertepatan
dengan hari minggu panggilan sedunia. Hari itu memperingati bagaimana gereja
mengingatkan umatnya akan sebuah ‘panggilan’ dari Tuhan untuk menjadi Gembala
yang baik. Minggu itu kebetulan yang ngisi koor (paduan suara di gereja) adalah
anak-anak TK Marsudirini Jogja. Seneng bangetnya adalah ketika bisa menikmati mereka
yang begitu luar biasa bernyanyi sepenuh hati untuk Tuhan.
Mereka aja tulus,
kalau kamu gimana?
Waktu itu gue dapet pengalaman penting
dari khotbah yang disampaikan Pastur. Dia cerita gimana saat pertama kali mau
mendaftarkan diri ke seminari. Dia bilang kalau akhirnya dia menentukan pilihan
untuk meneruskan pendidikannya ke seminari, dan mengarahkan hidupnya sebagai
Gembala Tuhan. Pastur ini juga berhasil banget bikin seluruh umat, terutama gue
terharu. Dia menciptakan sebuah lagu yang bener-bener menggambarkan perjalannya
menjadi seorang Pastur. Sedikit liriknya kurang lebih begini, “Inilah
langkah kakiku menuju ke altar-Mu. Walaupun berselimut ragu, tapi aku tahu Kau
selalu bersamaku. Kuserahkan bhaktiku dalam karyamu seumur hidupku.”
Jadi, kapan kamu
terpanggil buat ngajak aku kegereja bareng? Hehehe...
Mba Kasih
dan Mas Setia
Bicara soal
judul postingan gue kali ini, yaitu “Mengasihi Kamu”, gue mau cerita beberapa
pengalaman soal kasih dan setia. Katanya, ketika seseorang sudah menentukan
suatu pilihan tertentu, ia harus setia pada pilihan itu. Seperti menentukan
pilihan siapa yang mau dijadiin pacar kita, kitapun harus setia sama pasangan
kita. Menentukan jenis pekerjaan apa yang ingin digeluti, bersetia pada karir
yang sejak awal dibangun dengan susah payah. Dan bisa juga sesimpel setia pada
pilihan jalan hidup kita, misalnya menentukan pendidikan apa yang akan kita
tempuh.
Banyak dari
antara orang-orang yang gue kenal yang tidak setia pada prinsip hidupnya. Contohnya,
ada nih temen sekelas gue yang udah pernah nyoba kuliah di universitas lain
dengan jurusan yang sangat jomplang sama jurusan yang sekarang. Ada juga
beberapa temen gue yang sudah melewati satu semester dengan manis, tapi malah
mengundurkan diri di semester kedua hanya karena mau coba tes di kampus lain.
Buat
apa milih kalo nggak bisa setia?
Misalnya sekarang
kamu udah setia sama apa yang kamu pilih, tapi apa yang mau dijadikan indikator
kesetiaan itu sendiri? Toh jatuh cinta juga bisa datang tiba-tiba. Hari ini
suka sama A, besok naksir B, minggu depan baper sama C, tapi malah jadian sama
D.
Setia itu
butuh suatu pengorbanan. Korban hati dan perasaan, karena kamu harus menahan
hawa nafsu untuk tidak memilih pilihan lain. Kamu harus setia ketika memilih
dan mengasihi sesuatu. Entah dibalas ataupun tidak, entah tepat atau meleset,
yang penting kita harus mengasihi tanpa rasa pamrih. Jangan ngarep dikasih
sesuatu ketika kamu berhasil bertahan pada posisi tertentu. Jangan ngarep
dicintai mati-matian ketika kamu udah lama pacaran. Jangan ngarep di gaji besar
ketika kamu mengerjakan hal yang kamu suka. Semuanya butuh ketulusan, butuh
keikhlasan.
Kamu bisa gak mengasihi tanpa pamrih?
Kasihilah Sesamamu...
Sekarang daripada bikin pengandaian
yang belum tentu bener, gue ceritain aja nih kejadian luar biasa yang bikin gue
merasakan bagaimana sebuah kasih bekerja dalam kehidupan manusia.
Kejadian ini
udah lama sih, sekitar sebulan lalu, bahkan berawal dari bulan Februari
kemarin. Jadiiii, suatu hari gue memberanikan diri buat gabung jadi panitia
acara paskahan di UKM. Awalnya sih emang mau menyibukkan diri, dan mau mencari
sesuatu yang bikin kepikiran....hmm.....
Oke, terus seiring berkembangnya
waktu, kita sama-sama merangkai sebuah acara paskah yang bertebaran kasih
dimana-mana. Acaranya ada 2 hari. Hari pertama
kita nonton film bareng di kampus. Acara hari kedua adalah bakti sosial ke
panti asuhan. Dari dulu, baru 2 kali gue ikut dan bikin acara baksos ke panti kayak
gini. Tapi yang ini beda banget rasanya...
Dulu,
pertama kali ke panti waktu gue masih SD mungkin. Lalu melihat begitu banyak anak-anak
yang ada disana, seketika gue berpikir polos,
“Tuhan kok jahat yaa, gue punya segala sesuatu, keluarga yang luar biasa peduli sama gue, tapi Tuhan malah memberikan mereka kehidupan sederhana seperti di panti gini....”
Bahkan gue pernah nulis surat untuk Tuhan,
isinya gue marah karena Tuhan nggak adil.
Kedua
kalinya, waktu gue ikutan PMR pas SMP. Waktu itu gue udah cukup besar untuk
tidak berpikir bahwa Tuhan tidak adil. Waktu itu gue udah ngerti kalo mereka
bahkan adalah anak-anak paling beruntung karena sangat amat dikasihi oleh
Tuhan. Waktu itu gue udah bisa bikin anak-anak itu seneng karena ngadain games
dan acara lainnya.
Dan sekarang,
sebulan yang lalu itu merupakan pengalaman
paling nggak bisa dilupain sama Luna. Kenapa? Karena gue terlalu membawa
perasaan gue dalam segala rangkaian acara yang ada. Terlibat dalam perencanaan
dan rangkaian acara itu bikin gue belajar banyak hal.
Gue jadi tau gimana
susahnya ngumpulin orang,
gimana susahnya nyari sumbangan,
gimana susahnya
nyari uang dari hasil jualan barang bekas,
gimana lelahnya ngamen sampe malem,
gimana sulitnya menghargai waktu yang ada.
Dan yang paling penting,
gue jadi
tau banget gimana rasanya mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri
sendiri.
Cocok sih
boleh, sekarang cariin aja dulu Om yang mau nemenin Tante Luna momong Ica
hehehe.... Tapi entah mengapa, beberapa jam bareng Ica bikin Luna gamau
pisah...
Gamau pulang,Gamau cepet-cepet melewatkan kebersamaan ini.Luna masih mau lama-lama sama kamu.Luna masih mau liat kamu dari deket, liat kamu ketawa bahagia.Luna masih mau main sama kamu.
Mungkin gue
terlalu berlebihan, tapi percayalah, gue benar-benar merasa beruntung bisa
berada disana bersama mereka semua. Beruntung karena masih punya kesempatan
untuk berbagi kasih, dan merasakan kasih luar biasa diantara mereka. Beruntung karena
bisa kenal lebih banyak orang luar biasa yang tulus memberikan kasih mereka
pada sesama. Satu pesan yang paling gue inget dari semua rangkaian acara ini
adalah,
“Jangan lihat seberapa besar yang kamu berikan, tapi rasakan apa pelajaran yang kamu dapatkan!”
Nah itu dia,
gue dapet banyak pelajaran.
Pelajaran paling
utamanya adalah, ketika kita berada jauh dari orang-orang tersayang, masih ada
banyak orang lain yang bisa kita sayangi.
Ketika kita mungkin tidak bisa
merayakan sesuatu dengan orang yang kita kasihi, masih banyak moment yang bisa
kita ciptakan ketika kita tulus mengasihi orang lain.
Dan pelajaran tambahan terakhir adalah,
"Terimakasih sudah membuat paskah-ku lebih berarti dengan berbagi.
Terus kapan nih kita nyebar kasih rame-rame lagi?"




Uwwwwww melting 😍😍😍😍
BalasHapusUwww sa ae 😳
Hapus