Malam ini aku melangkah pasti menuju rumah terindah milik kita.
Kita yang bisa bersama hanya pada detik detik tertentu, tapi hari ini tetap tak bisa bersama.
Mungkin bukan kita, tapi aku bersama orang yang paling kamu kasihi, -bukan sepertiku yang hanya jadi secuil hiasan debu di hatimu.-
Malam ini aku kembali mengingatmu ketika berada didekat dinding itu.
dinding yang tinggi, yang hanya bisa kugapai sebatas dua jemari.
Dinding yang tak bersuara -karena tak pernah kamu beri pita atau gendang didalamnya-
Dinding yang membentuk gambaran wajahmu -bisa juga wajahku, atau wajah siapapun diantara kita-
Dinding yang lambat laun kian mengikis, menghilang bagai batuan yang dihempas ombak lautan.
Tapi dari dinding itu bisa kulihat pelangi keagunganmu. Pelangi yang sama indahnya seperti senyumanmu. Pelangi yang hanya beda tipis dengan rasa bahagiaku kala itu.
-Kala aku bernyanyi tentang pelangi bersamamu-
Tapi, bisakah kamu rasakan bila ada pelangi di matamu?
Bisakah kamu melihat berkas sinar pancaran pelangi dari rautku?
Bisakah kamu membaca isyarat manis yang indah bagai pelangi malam ini?
Karena aku baru saja bisa, bisa begitu saja kembali berhenti pada langit pemancar pelangi setelah hujan malam ini.
Aku memang tidak bisa melihat pelangi itu karena langit begitu gelap menghadangku.
Tapi, aku bisa rasakan betapa ada 7 cahaya indah disana.........-di raut wajah bahagiamu yang tak pernah gagal membuatku terpaku-
Mungkin dinding itu semakin lama semakin tipis, pergi seperti 7 cahaya indah yang tadi ada. Namun, setipis apapun ia, aku tau ia akan selalu ada, ada untuk menjadi pemintas diantara kita. Kita yang sama-sama punya kisah bahagia.
Aku bahagia karena setidaknya masih bisa melihat pelangi.
Kamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar