Senin, 15 Februari 2016

Langit Malam Ini





Apa benar itu kamu?

Pernah satu kali kulihat rupamu, begitu asing, hingga aku terjatuh pada satu hal yang unik darimu, membuatku selalu ingat siapa kamu.
Tapi takdir berkata, bahwa itu benar-benar kamu.

Aku nggak tau mengapa kita bisa bersama.
Mungkin itu adalah sebuah ketidaksengajaan semata.
Tapi jika malam malam berikutnya, kamu yang selalu singgah dalam bunga tidurku, apa itu juga kebetulan?


Sebenarnya cukup sederhana,



Kita bertemu ketika aku butuh kamu.
Ketika aku butuh dibuat tersipu olehmu.
Ketika gelak tawa yang lalu bisa menghibur lukaku.



Sebenarnya sepolos, ‘aku suka caramu...’
Caramu mungkin juga sama pada manusia lainnya, tapi satu yang ku tau, kamu sudah mencuri perhatianku –hanya dalam satu kali kedipan mata.
Sebenarnya hanya selucu ‘aku selalu melewati jalan lain supaya bisa ketemu kamu.’
Tapi benar kata temanku, ‘jodoh tidak bisa direncanakan.’



 
Sebenarnya hanya sebahagia ‘kamu membalas tulisan tak penting yang waktu itu kutempel di dinding.’

Kamu pasti sudah lupa, tapi percayalah, aku hafal benar setiap huruf yang kamu tulis pagi itu.



 

Sebenarnya hanya se-luar-biasa sentuhan telapak, jemari, sorot matamu, hangat senyuman, kasih, kenyamanan,...
Tapi aku sadar, peluangku bersamamu hanya sebatas intensitas pertemuan kita.


Kecil memang.
Kecil sekali dibanding ketika kamu bersama mereka.




Tapi, bolehkah satu, dua atau tiga kesempatan nanti kita kembali bekerja sama membangun bahagia?
Setidaknya sekedar bernyanyi dan tertawa bersama lagi...



Bolehkah?



Apa boleh jika aku berbagi beberapa cerita padamu?
Pasti kamu punya solusi bagus dalam perkaraku ini....


Apa boleh juga, bila suatu saat nanti kita pergi bersama-sama?
Nggak perlu berdua kok, karna kita kan bersaudara dalam Namanya yang agung dan mulia.




Sebenarnya, segalanya hanya seberuntung malam itu –dimana aku menatapmu dari lantai dua wisma itu, lalu pergi ke tepian jendela, hanya untuk melihat langkah kakimu nan lugu, lelah menepi setelah seharian itu mendampingiku.



 

Enggak, aku nggak butuh balasan apa-apa!




Aku cuma butuh moment kebersamaan, –sepi banget rasanya hidup di kota lain, jauh dari keimanan sejati. Aku cuma mau ngerasain, ‘bagaimana serunya jadi temanmu.’


Mungkin tempat kita yang berbeda membuat kita jarang bersinggungan lagi. Tapi setidaknya, aku pernah merasa begitu beruntung mengenalmu. :)



Pada akhirnya, dibawah langit malam yang cukup manis dengan bulan sabitnya (yang sama manisnya seperti malam itu), aku hanya ingin mengirimkan sebuah isyarat sehalus tulisan-tulisan terjemahan dan bingkaian foto penuh rindu akan bertemu denganmu kamu lagi.


Terimakasih yaa sudah membuatku tersenyum saat masalah menjengkelkan menghantuiku. Sayangnya, Kami masih punya hutang nyanyi sama kamu.







Kalau jodoh, nanti kita ketemu di belakang yaa!

Maaf bila aku terlalu terburu-buru.
Jangan anggap serius, aku cuma bercanda kok.
Oiya, Dapat salaam dari tebingnya :)



1 komentar: