Bukan.
Bukan soal bagaimana aku membuatnya, tapi bagaimana ketulusannya.
Sore ini aku kembali teringat akan gambaran kue coklat manis yang waktu itu kuhias dengan coklat warna-warni, seperti perasaanku yang sedang bahagia karna bisa berkumpul bersamanya.
Bersama siapa?
Bersama dia.
Iya,
Dia.
Dia yang sangat kusayangi.
Tidak pernah kurasa bahwa beberapa bulan ini aku melewati hidupku tanpanya. Tanpa canda dan suara serak tapi hangat darinya. Tanpa kata-kata, "Nak, kok nggak bisa loading yaa?" -ketika ia menyalakan komputer karena ada yang membayar listrik atau sekedar bermain game bola favoritnya-
Tadinya aku kira aku akan rindu rumah. Tapi nyatanya biasa saja. Bersyukur sekali aku merasa betah tinggal di sini, di kampung halamannya.
Tapi, sayangnya, ada suatu ketika, dimana aku rindu untuk bertanya, "Mau kemana pak?"
Lalu cenderung dijawab, "Ke pasar, mau ikut?"
Dan hampir selalu aku iyakan karna aku senang berjalan-jalan sekedar dibonceng naik motor dengannya.
Lalu cenderung dijawab, "Ke pasar, mau ikut?"
Dan hampir selalu aku iyakan karna aku senang berjalan-jalan sekedar dibonceng naik motor dengannya.
Namun kini rasanya tak bisa kuwujudkan dalam jarak ratusan kilometer yang memisahkan kedua kota penuh kenangan ini. Entah bagaimana, sekeping hatiku telah jatuh pada kota budaya ini. Pada segelintir keindahan yang tidak pernah kujumpai di dekat rumah.
Dulu aku tidak pernah bermimpi untuk berada disini. Yaa, pernah sih, tapi hanya untuk berkunjung, bukan untuk menetap atau bahkan berguru. Tapi dialah yang berkata padaku, "Sejauh-jauhnya di Jogja, nggak akan sejauh Jakarta."
Tadinya aku ragu.
Tapi saat mengetahui bahwa aku harus benar-benar berjuang untuk mendapatkan kesempatan terakhirku, diapun yang mati-matian mengajakku berdoa, bahkan sebelum dia mengantarku ke tempat ujian.
Aku terharu.
Tak pernah kusangka segala doa ini akan terkabul. Aku tak menyangka bahwa jalan yang diberikan Tuhan kepadaku adalah jalan untuk jauh darinya, tapi pasti lebih dekat dengan-Nya.
Iya, aku tau pasti akan itu.
Rasa syukurku yang tak kalah luar biasa adalah ketika aku masih bisa mendengar suara dan tawanya meski hanya sekedar lewat udara.
Jangan heran bila melihatku betah berlama-lama teleponan dengannya. Nyatanya aku memang tak pernah bosan atau kehabisan cerita bila berbincang dengannya.
Tapi sekarang dia tak lagi muda.
Tak segagah dulu waktu masih bekerja.
Tak sekuat dulu saat setiap kali kukagetkan bila masuk pintu rumah.
Tak setampan dulu saat membuat mama jatuh cinta.
Meskipun demikian,
bagiku,
dia tetap muda dengan gaya bercandanya.
Dia tetap gagah saat bermain bersama cucu-cucunya.
Dia tetap kuat saat harus memperbaiki rumah.
Dia tetap tampan dan rupawan karna kasih dan cintanya tak pernah membuatnya menjadi menua.
Karena dia selalu menjadi bapak yang paling baik untukku.
Saking baiknya sampai aku rela melakukan segalanya hingga bisa memberikan sedikit kado sederhana saat bapak berulang tahun yang ke-65 bulan Mei lalu.
Bapaklah yang selalu memuji karyaku, meski seburuk apapun itu. Iapun yang selalu memberi apresiasi paling istimewa untukku.
Sungguh tak bisa kutuliskan ribuan cerita yang pernah kulewati dengannya, tapi teruntuk 17 tahun dan 8 bulan yang sangat berharga ini, terimakasih untuk cinta yang tak pernah ada habisnya, pak. Terimakasih sudah mau menjadi bapak buatku. Sampai bertemu natal nanti.
Beruntungnya diriku memilikimu, berikan cahaya terangi langkahku. Tak ku rasa sebelumnya, sejuta cinta yang terindah.....
(Yovie and Nuno - Sejuta Cinta)
(Yovie and Nuno - Sejuta Cinta)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar