Belajar menerima susuatu memang sulit. Sama sulitnya seperti melupakan masa lalu yang sangat membahagiakan, namun terhempas kesedihan mendalam.
Dulu aku pernah membayangkan indahnya kebebasan dalam dunia ini. Berdiri dan berjuang sendiri dalam periode menuju masa depan, indah rasanya menghiasi sendiri ruang penuh mimpi yang akan menjadi habitat liarmu kedepannya.
Tapi, kenyataan menentangku.
Periode itu nyatanya mengharuskanku bertemu dengan cerita paling indah yang sejak dulu tak pernah kujumpai. Awalnya berat bagiku. Penat aku menjalani semuanya. Sesak aku merasakan udaranya. Tapi aku tau, ini adalah model persamaan paling dasar yang bisa kupelajari dalam kehidupan yang baru ini.
Hingga selama ini, aku masih belajar menerima sebuah kenyataan dimana hidupku menjadi lebih ramai dari sebelumnya. Seramai itukah hingga aku tidak bisa mempelajari hal lainnya?
Sepenat itukah hingga sekiranya aku merasa begitu ingin berlari menjauh?
Sesesak itukah hingga aku harus menahan nafas untuk sekedar menelan ludahku sendiri?
Lama-lama ternyata aku bosan.
Bosan untuk mencoba belajar dan selalu belajar untuk menerima semua ini.
Tapi kadang aku tersadar, ada kehidupan baru yang mulai bersinggungan dengan kisahku. Kehidupan sejenis yang pada hari-hari tertentu bisa menemaniku pergi memujiMu. Namun hidup inipun terlalu menyita perhatianku. Padahal tak pernah sedetikpun ia memperhatikan langkahku.
Aku tau, banyak hal yang harus kuterima. Aku harus lebih belajar menerima. Menerima keadaan tak menentu ini. Keadaan penuh desakan perasaan yang kadang menggantungkanku. Keadaan salah tingkah yang membuatku tak nyaman bila melihatnya bersama kehidupan yang lain. Keadaan serba salah yang pada akhirnya mengharuskanku melupakah kehidupan indah itu.
Belajar menerima memang sesuatu yang sulit.
Cukup sulit ketika kamu tidak ingin pergi dari sisinya, meninggalkan kisahnya, lalu menerima kenyataan,
bahwa satu keyakinan belum tentu menyatukan perasaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar