Semenjak
rumah Jogja direnovasi dan ditumbuhi beberapa tanaman di teras, dan semenjak
Mba Nia suka beli-beli anggrek gantung, aku juga suka nyiram-nyiram tanaman
itu. Apalagi karna dia beli ember penyiram bunga yang lucu itu, yang kayak
hujan... kalian pasti tau maksudku kayak apa.... Nyiram-nyiram tanaman di sore dan
kala waktuku selo merupakan rutinitas yang cukup menyenangkan. Walaupun ember
penyiram itu kapasitasnya cuma 3 liter, dan aku harus bolak-balik ambil air di
keran, tapi rasanya nyiram tanaman itu senang sekali. Seketika kamu bisa
ngerasain bagaimana bahagianya tanaman itu disiram, diberi kesegaran, hampir
mirip seperti manusia yang mandi di sore hari.
Terkadang
aku juga bisa mencium aroma-aroma tanah panas yang terkena sentuhan air. Baunya
nikmat, melebihi vape banana yang dihirup temanku. Aroma tanah yang bahagia
karena tak tandus lagi itu menambah rasa bahagiaku. Tanaman-tanaman itu seperti
tersenyum menyapaku setiap sore. Aku bisa merasakan dahannya yang mengerut
menjadi lebih kuat dan tampak segar tiap sore. Aku bisa meraba bagaimana
bunganya menjadi lebih halus dan makin cantik warnanya. Aku bisa mendengar
bagaimana tanah-tanah itu bersorak riang gembira ketika kusiram air dingin.
Sore itu
mungkin beberapa aliran darahku agak mampet. Input jadwal kuliah yang agak
ngaret membuat otakku stress. Ternyata begini ya kehidupan yang sesungguhnya. Dari
lahir aja kita udah rebutan supaya bisa bertahan hidup. Masuk kuliah dengan
seleksi yang sulit saja sudah sangat bikin pusing kepala. Ditambah lagi dengan
keharusan input mata kuliah, ups, rebutan mata kuliah maksudku. Dari semester 3
dulu aku suka sekali bikin jadwal kuliah yang padet-padet. Kalau bisa sehari 4
langsung, bodo amat deh dari pagi sampe magrib, biar nggak sayang bensin
motornya. Tapi, dari sekian banyak jadwal cantik yang kususun, selalu saja aku
telat input. Dan pagi ini alasannya sesimpel karena aku ngeluarin motor dan
nyapu teras rumah.
Kadang banyak
alasan-alasan sederhana yang bikin kita pusing tujuh keliling. Banyak insiden
kecil yang memengaruhi hari esok kita, juga masa depan kita. Tapi, hari ini
ketika sore-sore nyiram tanaman, ingatanku berlari menuju ke sepuluh tahunan
silam. Dulu kalau sore aku suka nyiram bunga di lantai 2 rumahku bareng sama
Bapak. Sebenernya bukan bantuin, lebih ke ngerecokin dia, sampai basah semua
bajuku, dan berujung malah mandi bebek di balkon lantai 2 rumahku. Sering juga
kami mengepel teras rumah dengan air bekas cucian yang masih licin-licin. Aku selalu
mencoba gaya berseluncur paling rusuh sepanjang masa.
Ingatanku
berlari-lari dalam hari-hari dan kenangan-kenangan bersama air, bunga, dan
rutinitas sore hari yang kurindukan itu.
Dulu pikiranku hanya bermain dengan
air-air itu. Mereka menghiburku dengan sederhana.
Kini, pikiran rumitku bisa
saja dicairkan dengan air-air yang menghentak jiwaku dengan perlahan.
Mereka mengingatkanku
dengan sederhana, bahwa tidak hanya aku yang hidup di dunia ini. ada kamu, ada
dia, ada mereka, ada tanaman dan bunga-bunga cantik juga.
Kerap kali kita memang perlu menanti waktu itu berganti untuk bertemu dengan pejuang-pejuang lain.Kerap kali kita juga harus megorbankan waktu dan hidup kita untuk orang lain, untuk senyum dan bahagia makhluk lain.
Sesederhana menyiram bunga,
bisakah kamu juga merasakan senyum manisnya menghiasi hari-harimu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar