Minggu, 08 Februari 2015

Jatuh Hati

Tanpa terasa, sudah lama aku tahu tentang dirinya. Sekedar tahu saja, sampai suatu ketika takdir mempertemukan kita di beberapa persimpangan jalan. Aku mulai bertanya, mengapa aku melihatnya??

Dan kini, detik yang mulai bertepi menuju petang, tak sengaja kembali membuatku melihat dirinya. Dia baru saja melewatiku. Melewati jalan dimana aku sedang berhenti.

Itu kisahku setengah tahun yang lalu. Kini semua tahu bahwa aku telah jatuh, jatuh pada pandangannya yang berbiaskan kebeningan. Jatuh pada canda tawanya yang kurasa dari jarak satu meter. Jatuh pada senyumannya yang entah mengapa begitu mempesona. Jatuh pada cerita hidupnya yang membuatku tersenyum bangga. Ah, jarang sekali ada lelaki seperti dia.

"Uhuk, Marioo......" Dia meledek aku. Lagi, dan lagi. Aku hanya bisa tersenyum malu, tersipu, bukan karna Mario, tapi karna Aji. Karna Aji-lah yang pada akhirnya menyapaku terlebih dahulu, mengajak aku bicara, sekedar minta tolong mengambilkan tas miliknya. Aku masih ingat sekali kejadian siang itu. Dia baru saja mencuci mukanya, rambutnya masih basah, berdiri terkena air. Rupanya terlihat lebih segar setelah ujian Bahasa Inggris tadi.
"Eh, ada tas gak yaa?" Semestinya saat itu aku bertele-tele memanjangkan percakapan, tapi tidak. Bukan waktunya.

"Apaan sih, Ji..." Aku memukul dia pelan. Beruntung sekali bisa menyentuh kulit sawo matang yang tak begitu berdaging itu. "Halah, ngeles deh kayak bajaj, kalo suka sih bilang aja, Ta." Dia menggodaku sambil melirik kearah Mario yang bersandar didepan pintu kelasnya.

"Suka? Yakaliii...." Balasku masih tersipu. Kalau lama-lama diledek seperti ini aku bisa benar-benar suka pada Mario. Tapi nyatanya, aku malah menjadikan dia sebagai kambing hitam. "Udahlah, gak usah pura-pura, perlu gue yang bilangin, Ta?"
Tidak perlu, justru kamu yang perlu tahu, Ji. Kamu perlu tahu yang sesungguhnya terjadi.

"Udah ah males ngomongin Mario mulu Mario muluuuuu....." Aku pergi, masuk ke kelas. Sementara dia masih tertawa didepan kelasku. Lalu dia pergi. Bayangannya masih tergambar jelas dalam liuk kaca jendela kelasku. Rambutnya masih kaku terkena minyak rambut yang tiap pagi ia oleskan. Aku bahkan tahu apa merk parfum Aji. Rasanya sudah lama aku mengintai kehidupannya sampai sedalam ini.

Detik demi detik, waktu yang selalu berjalan maju, seperti Aji dan Mario yang selalu berjalan berdampingan. Hal ini memang selalu mengecohku. Aku memang memandang kearah mereka, tapi yang orang lain tahu, aku memandangi Mario. Padahal, ada Aji yang lebih jelas kulihat.

Lama kelamaan aku mulai merasa bersalah. Sebeginikah kesalahpahaman itu terjadi? Awalnya aku hanya terkejut karna kami tak sengaja bertemu. Selanjutnya aku malah terpikat segalanya. Tapi kini, malah Mario yang kena imbasnya. Bagaimana bila dia dan semuanya tahu, bahwa sebenarnya bukan Mario, bukan dia, tapi Aji.

Aku bersalah telah berpura-pura seperti ini.
Aku bersalah karna mereka telah salah sangka.
Tapi memang nyatanya aku tidak jatuh cinta. Aku hanya terpikat padanya, tersihir tatapannya, terkagum pada ucapannya.

Dulu aku berharap agar dia tahu bahwa aku mengaguminya, dulu aku ingin sekali menjadi temannya, merasakan bagian kebahagiaannya. Tapi kini, setelah aku sudah berada didekatnya, bisa berbicara padanya, menjadi temannya, meski semua ini karna alasan aku menyukai Mario, tapi aku tetap bersalah. Aku sudah menipu mereka. Menipu hati dan perasaan seseorang.

Tapi kini semuanya telah terjadi. Mau dikatakan apa lagi, mungkin seiring waktu aku memang bisa benar-benar menyukai Mario, seperti yang mereka semua duga. Dan kini memang rasanya aku hanya memanfaatkan kehadiran Mario demi mendekati Aji, yang sudah menjadi milik orang lain.
Munafik memang, tapi aku sadar, aku bukannya jatuh cinta, tapi jatuh hati padanya. Mungkin memang Aku tak harus memilikimu, tapi bolehkah aku selalu didekatmu dan menjadi temanmu?


(Terinspirasi dari lagunya Raisa - Jatuh Hati)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar