Kamis, 12 April 2012

First Time…


Kisah nyata tentang tetangga yang tinggal satu kompleks perumahan sama gue, namanya Mas Galih.. Dan ceritanya, kayak gini nih,,
First Time…

Suatu pagi di pemukiman elite, Tari, seorang anak pegawai negeri yang tidak korupsi, sedang menggoes sepedanya dengan santai. Ia menuju ke sebuah kedai nasi uduk di daerah itu. Walaupun keluarganya terbilang kelas menengah ke atas, namun siswi kelas 2 SMP ini sangat menyukai nasi uduk racikan seorang Ibu Rumah tangga bernama Ibu Aji.
Tari pun menarik pedal rem sepedanya tepat di tepi jalan kedai itu. Saat itu, Bu Aji telah dikerumuni banyak pembeli yang terdiri dari berbagai macam umur.
Setelah beberapa menit mengantri, suasana disana terlihat agak sepi. Hanya ada sang penjual, seorang pembeli, Tari, anak bu Aji, dan seorang laki-laki yang bertempat tinggal di seberang kedai itu.
“Mba Tari, tunggu bentar ya, bu Aji ngelayanin punya mas Galang dulu..” Sapa penjual berumur separuh baya itu.
Tari hanya tersenyum ke arah nya.
“Mas Galang beli apa? Nasi uduk apa nasi goreng?”
“Nasi goreng aja, satu.” Jawab orang itu dengan suara nya yang terdengar serak.
“Buat siapa nasi gorengnya?” Tanya bu Aji sambil menyiduk nasi goreng.
“Buat aku..”

Seorang pembeli lainnya pun bertanya,
“Loh, mas Galang jauh amat beli nasi nya disini?”
“Lah, deket kok, tuh rumahnya, kepleset juga nyampe..” Jawab Bu Aji.
“Yang mana Bu?” Tanya anak ibu itu.
“Itu loh, yang seblah sana..” Sambil menunjuk ke arah rumah minimalis bertingkat 2.
Tari pun ikut melihat rumah itu.

“Loh, kapan pindahnya?” Tanya anak Bu Aji itu.
“Ada kali 2 mingguan ya mas Galang?” kata bu Aji.
Lelaki bernama Galang itu pun mengangguk dengan senyum di bibirnya.
Tak berapa lama, nasi goreng pesanan nya pun telah terbungkus rapi di kertas nasi.
Dia pun membayar, dan lalu berjalan perlahan ke arah rumah ber cat abu-abu dengan ornament kayu yang berwarna coklat.
Setelah itu, Bu Aji membuatkan nasi uduk milik Tari. Dia membeli 3 bungkus, satu untuknya, dan kedua orang tua nya. Setelah mendapatkan pesanannya, Tari kembali menaiki sepedanya, lalu pulang ke rumah.
Tari yang memiliki rasa penasaran terhadap orang yang bernama Galang itu pun memutar melewati depan rumah Galang. Saat itu, dia memperhatikan rumah hug itu dari pagar besi nya, sampai jendela di sisi kiri rumah itu.
Tiap kali Tari pergi keluar dari kompleks rumahnya untuk ke Gereja, atau sekedar bermain sepeda, dia selalu melewati rumah Galang itu, dan dia selalu menyempatkan diri untuk melihat kearahnya.

Suatu hari, Tari bertanya pada seorang temannya yang tinggal tidak jauh dengan Galang.
“Eh, lo kenal nggak sama yang tinggal di rumah abu-abu itu?”
Temannya pun mengenali orang yang dimaksud Tari. Tari juga meminta temannya itu menceritakan seluk beluk tentang Galang.
Suatu malam, Tari sedang termenung menatap langit yang ditaburi bintang dari lantai dua rumah nya. Entah mengapa, yang ada di pikiran Tari, hanyalah Galang.
Teman Tari yang bernama Sisil itu bercerita, kalau Galang mengidap sebuah penyakit yang membuatnya selalu mondar-mandir ke rumah sakit tiap sebulan sekali.
“Orang secakep itu sakit. Rasanya aneh kalo dia keliatan kayak orang sehat..” Ucapnya dalam hati.

Beberapa bulan berlalu. Saat ini, Tari sudah menginjak bangku kelas 3 SMP. Dan, pada suatu pagi, dia membuka pesan singkat di Handphone nya.
“Tari, mas Galang meninggal..”
Tari yang saat itu sedang bermain dengan Laptop baru nya pun tersontak kaget. Dia pun seakan tak percaya atas kabar itu.
“Emang lo nggak denger beritanya? Kan ada di Masjid…” Kata Sisil.
Tari baru sadar kalau saat itu, Tari sedang mendengarkan lagu yang amat kencang di headset nya.
Keesokan harinya, Tari meminta Sisil menceritakan apa yang terjadi pada Galang.

-FLASHBACK-
Setiap bulan, Galang harus melewati serangkaian proses pencucian darah. Dia harus menahan berjuta-juta rasa sakit saat dia menjalani proses ini, walaupun dia dibius, tapi rasa sakit itu akan selalu ada di hati. Galang sudah lama mengidap penyakit ini. Semakin lama, ginjal nya semakin rapuh sehingga tidak dapat memompa darah seperti kebanyakan orang normal. Dia hanya bisa mengandalkan mesin pencuci darah dengan harga yang tidak sedikit.
Setiap kali dia memakan makanan yang susah untuk dicerna, dia selalu memuntahkan kembali makanan itu, karna sang ginjal menolaknya.
Sampai tiba suatu hari, dia merasa perutnya sangat sakit. Orang tua nya pun berinisiatif membawanya ke rumah sakit terdekat, namun takdir berkata lain, dia menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan.
Tari pun merasa sedih mendengar semua ini. Dia tidak menyangka kalau pertemuannya saat itu adalah yang pertama dan terakhir.
“Pasti dia itu orang yang kuat ya, bukti nya dia kuat bertahan sampe saat terakhirnya..” Katanya pada Sisil.
Sejak saat itu, setiap hari, Tari selalu terbayang-banyang saat pertama dan terakhir kali dia bertemu Galang. Namun, sayangnya, Tari sudah tidak ingat bagaimana lekuk wajahnya.
“Andai gw pelukis, mungkin gw udah ngelukis gimana Galang yang dulu pernah gw liat. Andai waktu bisa diputer, gw pengen kenal sama dia..” Kata suara hatinya.
Suatu awal, adalah sebuah Akhir yang bahagia...
Jika beruntung, kamu akan mengenalnya kelak nanti..
-In Memoriam, Galang-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar