Kisah nyata
tentang tetangga yang tinggal satu kompleks perumahan sama gue, namanya Mas
Galih.. Dan ceritanya, kayak gini nih,,
First Time…
Suatu
pagi di pemukiman elite, Tari, seorang anak pegawai negeri yang tidak korupsi,
sedang menggoes sepedanya dengan santai. Ia menuju ke sebuah kedai nasi uduk di
daerah itu. Walaupun keluarganya terbilang kelas menengah ke atas, namun siswi
kelas 2 SMP ini sangat menyukai nasi uduk racikan seorang Ibu Rumah tangga
bernama Ibu Aji.
Tari
pun menarik pedal rem sepedanya tepat di tepi jalan kedai itu. Saat itu, Bu Aji
telah dikerumuni banyak pembeli yang terdiri dari berbagai macam umur.
Setelah
beberapa menit mengantri, suasana disana terlihat agak sepi. Hanya ada sang
penjual, seorang pembeli, Tari, anak bu Aji, dan seorang laki-laki yang
bertempat tinggal di seberang kedai itu.
“Mba
Tari, tunggu bentar ya, bu Aji ngelayanin punya mas Galang dulu..” Sapa penjual
berumur separuh baya itu.
Tari
hanya tersenyum ke arah nya.
“Mas
Galang beli apa? Nasi uduk apa nasi goreng?”
“Nasi goreng aja, satu.” Jawab orang itu dengan suara nya yang terdengar serak.
“Nasi goreng aja, satu.” Jawab orang itu dengan suara nya yang terdengar serak.
“Buat
siapa nasi gorengnya?” Tanya bu Aji sambil menyiduk nasi goreng.
“Buat
aku..”
Seorang
pembeli lainnya pun bertanya,
“Loh,
mas Galang jauh amat beli nasi nya disini?”
“Lah,
deket kok, tuh rumahnya, kepleset juga nyampe..” Jawab Bu Aji.
“Yang
mana Bu?” Tanya anak ibu itu.
“Itu
loh, yang seblah sana..” Sambil menunjuk ke arah rumah minimalis bertingkat 2.
Tari
pun ikut melihat rumah itu.
“Loh,
kapan pindahnya?” Tanya anak Bu Aji itu.
“Ada
kali 2 mingguan ya mas Galang?” kata bu Aji.
Lelaki
bernama Galang itu pun mengangguk dengan senyum di bibirnya.
Tak
berapa lama, nasi goreng pesanan nya pun telah terbungkus rapi di kertas nasi.
Dia
pun membayar, dan lalu berjalan perlahan ke arah rumah ber cat abu-abu dengan
ornament kayu yang berwarna coklat.
Setelah
itu, Bu Aji membuatkan nasi uduk milik Tari. Dia membeli 3 bungkus, satu
untuknya, dan kedua orang tua nya. Setelah mendapatkan pesanannya, Tari kembali
menaiki sepedanya, lalu pulang ke rumah.
Tari
yang memiliki rasa penasaran terhadap orang yang bernama Galang itu pun memutar
melewati depan rumah Galang. Saat itu, dia memperhatikan rumah hug itu dari
pagar besi nya, sampai jendela di sisi kiri rumah itu.
Tiap
kali Tari pergi keluar dari kompleks rumahnya untuk ke Gereja, atau sekedar
bermain sepeda, dia selalu melewati rumah Galang itu, dan dia selalu
menyempatkan diri untuk melihat kearahnya.
Suatu
hari, Tari bertanya pada seorang temannya yang tinggal tidak jauh dengan
Galang.
“Eh,
lo kenal nggak sama yang tinggal di rumah abu-abu itu?”
Temannya
pun mengenali orang yang dimaksud Tari. Tari juga meminta temannya itu
menceritakan seluk beluk tentang Galang.
Suatu
malam, Tari sedang termenung menatap langit yang ditaburi bintang dari lantai
dua rumah nya. Entah mengapa, yang ada di pikiran Tari, hanyalah Galang.
Teman
Tari yang bernama Sisil itu bercerita, kalau Galang mengidap sebuah penyakit
yang membuatnya selalu mondar-mandir ke rumah sakit tiap sebulan sekali.
“Orang
secakep itu sakit. Rasanya aneh kalo dia keliatan kayak orang sehat..” Ucapnya
dalam hati.
Beberapa
bulan berlalu. Saat ini, Tari sudah menginjak bangku kelas 3 SMP. Dan, pada
suatu pagi, dia membuka pesan singkat di Handphone nya.
“Tari,
mas Galang meninggal..”
Tari
yang saat itu sedang bermain dengan Laptop baru nya pun tersontak kaget. Dia
pun seakan tak percaya atas kabar itu.
“Emang
lo nggak denger beritanya? Kan ada di Masjid…” Kata Sisil.
Tari
baru sadar kalau saat itu, Tari sedang mendengarkan lagu yang amat kencang di
headset nya.
Keesokan
harinya, Tari meminta Sisil menceritakan apa yang terjadi pada Galang.
-FLASHBACK-
Setiap
bulan, Galang harus melewati serangkaian proses pencucian darah. Dia harus
menahan berjuta-juta rasa sakit saat dia menjalani proses ini, walaupun dia
dibius, tapi rasa sakit itu akan selalu ada di hati. Galang sudah lama mengidap
penyakit ini. Semakin lama, ginjal nya semakin rapuh sehingga tidak dapat
memompa darah seperti kebanyakan orang normal. Dia hanya bisa mengandalkan
mesin pencuci darah dengan harga yang tidak sedikit.
Setiap
kali dia memakan makanan yang susah untuk dicerna, dia selalu memuntahkan
kembali makanan itu, karna sang ginjal menolaknya.
Sampai
tiba suatu hari, dia merasa perutnya sangat sakit. Orang tua nya pun
berinisiatif membawanya ke rumah sakit terdekat, namun takdir berkata lain, dia
menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan.
Tari
pun merasa sedih mendengar semua ini. Dia tidak menyangka kalau pertemuannya
saat itu adalah yang pertama dan terakhir.
“Pasti
dia itu orang yang kuat ya, bukti nya dia kuat bertahan sampe saat
terakhirnya..” Katanya pada Sisil.
Sejak
saat itu, setiap hari, Tari selalu terbayang-banyang saat pertama dan terakhir
kali dia bertemu Galang. Namun, sayangnya, Tari sudah tidak ingat bagaimana
lekuk wajahnya.
“Andai
gw pelukis, mungkin gw udah ngelukis gimana Galang yang dulu pernah gw liat.
Andai waktu bisa diputer, gw pengen kenal sama dia..” Kata suara hatinya.
Suatu awal, adalah sebuah Akhir yang bahagia...Jika beruntung, kamu akan mengenalnya kelak nanti..-In Memoriam, Galang-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar